Lingkarmalang.com, Candi Sapto – Gunung secara teologi jawa memang masih memiliki peran, selain karena manfaatnya bagi insan manusia, pun juga dengan letak geografisnya yang lebih dekat dengan akhirat. Ditengarai karena ketinggian yang memang sangat berbeda dengan dataran lainnya, membuat keyakinan akan keagungan gunung sebagai pancer bumi lebih tersohor di Jawa.

Tak terkecuali pada gunung Kelud yang menjadi pembatas antara kabupaten Malang, kabupaten Kediri, dan kabupaten Blitar. Pasalnya di gunung yang masih aktif ini ada beberapa candi yang dibangun entah karena faktor keagungannya atau faktor kesunyiannya. Ada dua candi yang terbangun di kaki gunung Kelud, Candi Bocok dan Candi Sapto. Pada artikel sebelumnya Lingkar Malang sudah mengulas Candi Bocok, kurang adil rasanya jika tidak mengulas Candi Sapto.

Candi yang memiliki arti nama tujuh dalam bahasa jawa kuno ini terletak di desa Bayem Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang. Jika dapat disimpulkan candi ini memang difungsikan sebagai juru kunci Kelud. Lokasinya pun jika terjadi erupsi akan terdampak pula. Jika boleh disambungkan sepertinya hal ini yang menyebabkan rusaknya beberapa peninggalan purba di areal candi seluas kurang lebih 500 m2 ini.

Bila di lihat dari beberapa stupa yang mengelilingi candi ini, dapat disimpulkan candi ini digunakan oleh pemeluk agama budha. Stupa-stupa yang mengelilingi candi semuanya berupa Budha, namun patung budha ini ada yang unik, ada beberapa patung yang kepalanya masih belum jadi. Ada yang bilang hal ini ditengarai karena saat pembangunan candi ada letusan Kelud. Sehingga patung yang berjajar di sana masih setengah jadi. Kepalanya masih berbentuk kotak bongkah batu.

Tempat berdirinya candi ini terbilang sangat pelosok, untuk mencapainya saja jika dari alun-alun batu masih sekitar 47 kilometer ke arah Kabupaten Kediri. Namun sangat cocok rasanya untuk belajar sejarah sembari refreshing. Lokasi yang berada di pegunungan membuat tempat ini memiliki udara sejuk. Beberapa hutan di sekeliling candi seakan menjadi filter udara sekaligus penyegar tersendiri. Namun jangan berkunjung ke sini bila hari hujan, karena jalannya akan menyusahkan dan terbilang rawan.