Lingkarmalang.com, Hari Lebaran – Menjelang lebaran merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu, entah orang dewasa ataupun anak-anak. Akhir-akhir ini tradisi lebaran perlahan-lahan luntur. Entah karena terlindas modernisasi zaman atau para warga enggan untuk melestarikan warisan nenek moyang. Berikut Lingkar Malang ingin sedikit merangkum beberapa kebiasaan yang mulai luntur di Malang saat lebaran.

Membuat Jajan Obongan

Warga malang jaman dahulu kerap sibuk pada siang hari saat memasuki h-7 lebaran. Para ibu-ibu khususnya sibuk untuk membuat kue kering yang lebih familiar dengan sebutan jajan obongan. Di era 90-an masih jarang para penjual ke kering di pasar. Adanya bahan setengah jadi untuk kue kering, seperti terigu goreng dan lain sebagainya.

Merconan

Sebelum petasan dianggap terlarang, tradisi membuat mercon renteng (petasan renteng) di berbagai kampung menjadi gengsi tersendiri. Biasanya petasan digantung pada bambu, semakin tinggi bambunya semakin banyak petasannya, dan otomatis semakin semarak letusannya. Petasan lumrahnya disulut selesai sholat idul fitri. Atau ada pula yang membuat petasan kecil untuk disulut pada malam takbiran.

Perang mercon bombong

Menjelang malam takbiran biasanya anak-anak kecil di masa silam mulai mencari bambu. Nantinya saat malam takbiran sampai h+3 di sulut secara bergantian. Bambua yang dipakai digunakan untuk tempat bahan bakar (minyak tanah atau karbit). Setelah bahan bakar tersebut ditaruh di dalam bambu selang beberapa saat disulut. Lebih mirip seperti meriam yang digunakan saat perang.

Galak Gampil

Lumrahnya saat hari raya melakukan kunjungan ke sanak saudara atau tetangga.Kunjungan ini yang acap kali memberikan uang saku tersendiri bagi anak-anak. Tak jarang pula mereka berkunjung ke tetangga yang sangat jauh dari rumah (bahkan tidak kenal). Lucunya berkunjungnya hanya dengan teman sejawat saja, tanpa orang dewasa yang mendampingi.