Lingkarmalang.com, Sekilas Sejarah – Bapak Ekonomi Kapitalis Dunia yang bernama Adam Smith ini pernah mengungkapkan bahwa Bahasa itu timbul akibat kebutuhan manusia untuk saling memahami, teori ini terkenal dengan teori tekanan sosial. Sedangkan J.S Badudu menyata bahwa bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antar anggota masyarakat yang terdiri dari individu -individu yang menyatakan pikiran, perasaan dan keinginannya. Bila diambil sebuah benang merah dari berbagai pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah kebutuhan manusia yang hakiki untuk saling memahami antar individu manusia.

Tak bisa dipungkiri sebelum terbitnya sumpah pemuda yang memiliki makna salah satunya bahwa Bangsa Indonesia mengakui satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Dan sebelum Mohamad Jamin mempunyai pandangan bahwa bahasa Indonesia (Indonesische talen) dan budaya Indonesia (Indonesiche cultuur) akan sampai pada kepaduan sebagai satu identitas bangsa, sebagai gaya hidup warga. Negeri yang belum bernama Indonesia ini telah mengalami banyak perkembangan bahasa demi menjaga komunikasi antar individu di nusantara.

Salah satu bahasa yang muncul di nusantara ini adalah bahasa Petjoek. Pengertian bahasa Petjoek ini sendiri adalah bahasa campuran dan perpaduan antara Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu ataupun Bahasa daerah. Timbulnya bahasa Petjoek ini bermula dari kondisi lingkungan yang saat itu terdapat banyak warga Belanda yang sudah lama tinggal di Indonesia. Ataupun akibat perkawinan campuran antara warga Belanda dan pribumi yang terbentuk akibat anak-anak mereka mendengarkan dua bahasa sekaligus yaitu bahasa daerah dari lingkungan mereka tinggal, dan bahasa Belanda dari kedua orang tua mereka.

Bahasa Petjoek setiap daerah di nusantara berbeda, bila di jawa barat bahasa petjoek adalah perpaduan antara bahasa Belanda dan bahasa Sunda, maka Bahasa Petjoek di Jawa termasuk di Kota Malang adalah perpaduan antara Bahasa Belanda dan bahasa Jawa. Begitupun pula yang terjadi di daerah-daerah lainnya.

Walau memakai unsur Bahasa Belanda dalam struktur komunikasi yang dibangun, namun bahasa ini sebenarnya dianggap remeh bahkan hina bagi kebanyakan Orang Belanda sendiri. Alasannya karena dalam bahasa ini terdapat bahasa daerah dan melayu yang biasa digunakan oleh warga pribumi. Sehingga bahasa Petjoek saat itu hanya digunakan sebgaian besar oleh anak muda peranakan indonesia- Belanda yang menganggap bahasa itu sebagai bahasa gaul dalam menjalin komunikasi.

Walau bukan bahasa yang resmi, seperti bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa yang sering diajarkan di Sekolah, tak bisa dipungkiri Bahasa Petjoek juga pernah menghiasi khasanah dunia komunikasi di Malang diluar bahasa walikan ala Malang yang masih sering kita pakai. ( Pras)