lingkarmalang.com / Malang Raya Seperti layaknya bahasa sleng disetiap daerah, Malang pun mempunyai beragam bahasa sleng yang kerap digunakan pada jamannya. Bukan hanya bahasa yang dibalik saja yang menjadi ciri khas bahasa Malang, namun ada juga beberapa istilah yang menjadi semacam kode keakraban para pemuda dan pemudi Kota Malang dalam mengistilahkan sesuatu. inilah beberapa kata yang sempat dikumpulkan oleh tim redaksi Lingkar Malang.

Angak  Ho!! Nyenyek Tun!!

Bila Nawak Lingkar  Malang familiar  dengan kata ini bisa dipastikan Nawak Lingkar Malang berusia 30 tahun ke atas. Tak ada yang pernah tahu makna dalam kata-kata ini, beberapa artikel menyatakan seruan Angak ho!! Yang wajib dijawab dengan nyeyek tun!! Ini dicontoh dari Grup Komedi jawa yang dipimpin oleh Kirun. yang jelas pada periode 90-an para pemuda yang menyerukan angak ho wajib dijawab nyenyek tun bagi  mereka yang mendengarnya.  

Ciamso

Ciamso sebenarnya adalah sebuah singkatan perpaduan bahasa cina dan jawa yaitu ciamik soro. Kata ini mempunyai makna ciamik yang berarti bagus atau enak dan soro yang memiliki arti banget atau sangat. Jadi kata ciamso ini sebenarnya adalah sebuah ungkapan akan kondisi yang enak banget, atau bagus banget.

Nendes Kombet

Nendes kombet adalah bahasa walikan Khas Malang yang artinya senden tembok. Dua buah kata ini memiliki dua makna yang bisa diartikan berbeda. Nendes kombet yang pertama bisa diartikan sebagai leyeh- leyeh atau bersantai sambil duduk bersender di tembok, sedangkan makna yang kedua sering digunakan bagi kalangan pemabuk yang sudah tidak kuat berdiri bahkan untuk duduk saja harus bersandar di tembok.

Makmu Kiper

Istilah ini bila dibahasa Indonesia-kan berarti ibumu kiper, sebenarnya ini adalah ungkapan kekesalan anak muda pada temannya yang sering digunakan pada akhir 90-an. Makmu kiper ini biasanya akan dibalas oleh lawan bicaranya dengan mbahmu striker, Lalu yang terjadi kemudian adalah saling beradu kreatifitas menggabungkan profesi lapangan hijau dengan anggota keluarga seperti bapakmu anak gawang, hingga buyutmu gelandang serang, dan diakhiri dengan tawa bersama.

Woles

Kata-Kata woles ini tercipta pada era 2000-an, woles atau yang diballik selow ini ingin menandakan kalau ingin jadi orang malang santai aja. kalimat yang mengikuti istilah woles ini biasanya Malang Swantai sayang,  atau lek kesusu budalo wingi (kalo terburu-buru berangkatlah kemarin)

Moong..

Mooong ini adalah kependekan dari monggo, istilah bahasa jawa yang  berarti silahkan. Hanya para pemuda Malang menjadikan istilah  Mooong ini dekat dengan budaya mabuk-mabukan. Moong dijadikan sebuah komunikasi yang berarti memohon “ijin” untuk  menenggak minuman yang diberikan kepadanya.  (Kartiko)